KEBERSAMAAN

Foto bersama setelah mengambil gambar dan dokumentasi kegiatan lomba UKS

KEBERSAMAAN DI BATU KARANG

DREAM mengisi waktu libur dengan hunting ke salah satu pantai di daerah Jimbaran.

MENCARI SINAR SEMANGAT

Salah satu kegiatan yang kami suka bermain dengan flash.

HUNTING DI KUTA

Menikmati keindahan malam di Kuta , Bali. Bokehlicious!

Sabtu, 08 September 2012

Menambahkan elemen manusia dalam foto perjalanan


Tujuan wisata yang terkenal sebagian besar berupa pemandangan, atau bangunan unik bersejarah. Jika kita hanya membuat foto bangunan atau pemandangan alamnya saja, rasanya fotonya kurang menggigit dan kurang menggambarkan kehidupan.
Saat ke Semarang beberapa waktu yang lalu, saya mencoba memasukkan unsur manusia kedalam foto travel saya. Berikut beberapa hasil fotonya:

Petani enceng gondok di Rawa Pening
Foto diatas tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada unsur manusianya. Dengan memasukkan petani enceng gondok, komposisi foto menjadi lebih menarik karena adanya bentuk manusia dan refleksi di air. Komposisi ini juga lebih bercerita tentang luasnya lingkungan di waduk Rawa Pening.
Di lokasi ini, warga setempat menawarkan jasa untuk menjadi model dengan menebarkan jala. Biayanya Rp. 150,000. Tapi saya langsung menolaknya bukan karena biaya modelnya mahal, tapi lebih karena terkesan dibuat-buat dan karena motivasi dari orang tersebut adalah untuk mendapatkan uang.
Memberikan uang untuk kompensasi menjadi model merupakan hal yang lumrah, terutama untuk foto komersial. Tetapi, saya ingin menangkap suasana tempat yang saya kunjungi sejujur mungkin sehingga lebih akurat merepresentasikan keadaan lingkungan perjalanan saya saat itu.

Pagoda Watugong
Saat berkunjung ke Pagoda Watugong di pagi hari, saya mendapati seorang ibu yang sedang menyapu tangga-tangga menuju Pagoda. Saya merasa cukup menarik jika memasukkan ibu ini dalam foto saya karena bercerita tentang aktifitas warga di sana. Tapi tidak mudah juga untuk mendapatkan komposisi yang pas. Saya  berpindah-pindah seperti kupu kupu sambil menunggu momen yang tepat untuk memotret.

Pohon Bodhi dan Buddha Rupang
Foto diatas dibuat di kompleks Pagoda Watugong juga. Dengan sudut yang sedikit berbeda. Pohon di foto merupakan pohon Bodhi yang bibitnya dibawa dari India.

Masjid Agung Jawa Tengah
Di foto Masjid Agung Jawa Tengah ini, pertama-tama saya mengkomposisikan foto terlebih dahulu. Saya ingin membuat kesan tiang-tiang menuju ke Masjid. Setelah mengkomposisikan foto, saya merasa ada yang kurang di sebelah kanan foto. Tiba-tiba ada tiga orang berjalan menuju mesjid. Elemen manusia di sebelah kanan foto menjadi penyeimbang terhadap bagian kiri foto yang terang dan besar.
Tip & catatan
  • Carilah cahaya yang menarik. Contoh: pagi hari dan sore hari biasanya cahayanya lebih menarik daripada siang bolong. Dengan pengetahuan tersebut kita bisa mengatur jadwal perjalanan sebaik-baiknya.
  • Meksipun mengunakan lensa sapujagat, kita tetap harus rajin berpindah-pindah untuk mendapatkan komposisi yang menarik
  • Bersabar menunggu waktu yang tepat untuk motret
  • Membayar warga setempat untuk menjadi model membuat foto terkesan tidak alami
  • Hindari memasukkan foto wisatawan ke dalam foto jika ingin foto yang alami
Sumber : infofotografi.com

Tips komposisi & pencahayaan foto portrait model


Selama saya mengadakan workshop foto portrait model, pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana mendapatkan komposisi yang baik. Untuk pemula, ada beberapa aturan yang bisa membantu, seperti aturan sepertiga (rule of thirds), pola, bentuk, frame/bingkai, perspektif dan lain-lain.
workshop potret model
Di foto ini, cahaya di latar belakang yaitu lampu-lampu gantung mengarah ke model, juga pantulan sinar dari bawah menuju model. Pencahayaan juga membantu membentuk wajah dan tubuh model. Wajah dan lengan model terlihat lebih tirus.
Kali ini saya akan memberikan beberapa tips bagaimana membuat komposisi lebih baik dengan menghindari kesalahan-kesalahan umum. Salah satu kesalahan yang saya sering temui adalah ruang diatas kepala terlalu banyak.
#1 Bila daerah dibagian atas kepala model memang mendukung dan membentuk suasana foto, maka hal tersebut oke-oke saja. Tapi kalau tidak, sebaiknya tidak perlu membiarkan kebanyakan ruang di atas kepala model.
#2 Untuk fotografer yang berpostur tinggi, jangan lupa untuk mensejajarkan lensa sesuai dengan tinggi model dengan sedikit menekuk lutut. Bila yang di foto adalah foto close-up (foto kepala dan bahu saja) maka sejajarkan dengan hidung, bila komposisinya adalah 1/2 badan, sejajarkan dengan dada, bila komposisinya satu badan, sejajarkan dengan pinggang. Bila tidak disejajarkan, maka model akan terlihat lebih pendek dari sebenarnya. Sebaliknya, bila terlalu rendah, model akan terlihat lebih tinggi dan bagian bawah badan model (kaki, pinggul) akan terlihat lebih besar.
#3 Hal yang sangat penting lainnya yaitu memperhatikan latar belakang. Jangan hanya terpusat ke model saja, tapi perhatikan juga latar belakangnya. Sering sekali terdapat sesuatu di latar belakang yang menganggu, misalnya tiang listrik, kabel, orang-orang lain yang sedang berjalan, dan sebagainya. Bila latar belakangnya mengganggu dan memancing perhatian orang, sebaiknya memilih sudut lain atau pindah lokasi.
#4 Pencahayaan penting dalam komposisi foto, hindari cahaya frontal yang menyinari langsung ke wajah model, karena pencahayaan dari depan akan membuat wajah dan foto terlihat dua dimensi, tempatkan model atau sumber cahaya agak kesamping sehingga bayangan yang jatuh ke wajah membentuk wajah menjadi terlihat tiga dimensi.
Sumber : infofotografi.com

Kamis, 06 September 2012

Tentang ISO

Kali ini akan dibahas tentang apa itu ISO yang ada pada kamera secara singkat. 
ISO biasanya digunakan ketika kita akan mengambil gambar dikondisi tempat yang minim cahaya dan tanpa menggunakan pop up flash atau speedlite , untuk mendapatkan kesan warna yang dramatis dan sangat menarik juga tidak merubah kondisi cahaya yang sebenarnya.

ISO Range pada setiap kamera berbeda tergantung kemampuan yang sudah dibekali kamera tersebut dari pabriknya.Bisa kita ambil beberapa contoh kamera dengan kemampuan ISO yang bagus, yaitu kita bisa melihat sebuah kamera slr yang tanpa atau tidak memiliki Pop Up flash contoh Nikon D3s, D4 , canon 5D Mark II/III , Canon 1D series. Kamera yang memiliki kemampuan ISO yang baik umumnya merupakan kamera yang bisa dibilang kamera profesional.
 Semakin tinggi angka ISO , gambar yang didapatkan akan semakin terang , namun hasil yang didapatkan akan semakin kurang menarik karena akan timbul noise ( bintik bercak ).
Untuk lebih jelasnya, simak gambar dibawah ini,


"Gambar diambil dengan Nikon D3000 dengan ISO range 100-1600 (bisa sampai H1 (6400) )

Gambar 1, ISO yang digunakan adalah 100, jadi gamabar yang didapat akan nampak gelap, namun kualitasnya sangat bagus.

Gambar 2 , menggunakan ISO 200, gambar yang dihasilkan sedikit lebih terang namun kualitas mulai berkutang.


Gambar 3, menggunakan ISO 400, gambar nampak lebih terang dari gambar 2, dan kualitas mulai menurun, mulai terlihat Noise


Gambar 4, menggunakan ISO 800 , Gambar makin terang dan noise mulai bermuculan dgn jumlah yg cukup banyak.


Gambar 5 , ISO 1600 , gambar nampak terang dan noise sudah nampak lebih banyak dan mudah dilihat.

 Gambar 6, ISO H1 (6400) , Gambar terang dengan kualitas yg buruk, karena noise sudah menjamur dimana mana.

Setelah kalian melihat hasil dari berbagai ISO diatas, kalian bisa liat perbedaan yang terlihat.
Ingat, ISO range tiap kamera itu berbeda-beda. dan juga ISO H1,H2...etc, itu berbeda isinya, tergantung batas max Range, misal Nikon D3000 ISO range 100-1600 jadi H1 nya 6400 dan masih ada rentang ISO yang lebih tinggi lagi, yang pastinya berurutan.

jika ada yang mau ditanyakan, bisa coment Postingan ini dan juga pada tautan entry ini di group. nanti kami akan balas di blog atau di Group . Terimakasih.

Rabu, 05 September 2012

Santa Photography dengan tampilan baru

Kali ini, salah satu teman kita dari DREAM yaitu santa , merubah tampilan blognya dengan mengganti beberapa bagian agar terlihat lebih menarik dan modern "katanya. Ayo kita liat beberapa tampilan perubahan yang terjadi pada blognya.


Dari tampilan headernya, kini ditambah dengan slide dan beberapa prubahan background.


Dilihat dari bodinya atau isinya, mengalami perubahan tempat peletakan widget dan templatenya dibuat lebih minimalist.


dan footernya ditata tempat untuk menaruh sejenis widget yg berhubungan dengan jaringan atau info orang yang berkunjung ke blognya.

Itulah beberapa perubahan yang tidak terlalu signifikan, yang penting isinya mampu menarik para pengunjung "ujarnya.


 

Tips Human Interest Photography


Human Interest atau yang lebih di artikan sebagai kegiatan manusia merupakan suatu objek yang sangat bagus untuk dijadikan bahan sebuah karya photography. Bahkan Human Interest mempunyai disiplin tersendiri dalam dunia photography.

Biasanya yang dituangkan dalam aliran Human Interest ini adalah interaksi manusia, baik itu dengan alam, tumbuhan, hewan dan antar manusia itu sendiri. Namun kebanyakan yang menjadi objek foto dari aliran human interest ini adalah interaksi antara manusia dengan manusia itu sendiri.
Kali ini kita coba jabarkan beberapa trik dakam mengambi foto yang berjenis/aliran human interst.
1.       Jangan lewatkan moment.
Moment adalah hal pentin dalam sebuah karya foto. Dengan jeli melihat moment maka hasil karya kita akan menjadi sesuatu yang berharga.
2.       Kuatkan konsep
Sudah jadi rahasia umum dengan adanya konsep maka foto yang kita hasilkan akan membuat karya kita lebih berisi.
3.       Perhatikan komposisi
Hal yang tidak bisa disepelekan dalam sebuah karya photograpy adalah pengaturan komposisi yang tepat. Sering berlatih akan membuat kita tanggap dalam membuat komposisi dalam karya photography yang kita buat.
4.       Gunakan lighting alami.
Bagian ini tidaklah harus wajib, namun menggunakan lighthing alami lebih di sarankan dari pada menggunakan flash karena warna yang dihasilkan akan lebih baik.

5.       Setting
Adakalanya kita mempunyai konsep, dan konsep itu menuntut kita untuk mengatur objek yang akan kita tuangkan dalam sebuah karya. Karena objek kita adalah manusia kita masih bisa untuk mengatur mereka dengan catatan objek yang aka kita setting bersedia dan usahakan ekspresi yang didapatkan se natural mungkin.
6.       Tangkaplah ekspresi.
Karena yang kita inginkan adalah sebuah interaksi manusia maka ekspresi akan sangat penting dalam aliran photography ini.

Inilah beberapa trik dalam mengambil foto berjenis Human Interest, semoga bermanfaat dan mungkin diantara teman-teman ada yang bisa menambahkan silakan share disini.
Keep jepret, maju terus photography Indonesia

Sumber :http://www.ayojepret.com/2012/01/tips-membuat-foto-human-interest.html

Senin, 03 September 2012

WHAT'S EXPOSURE ?


Exposure


Eksposure / pencahayaan adalah: banyaknya sinar yang diterima oleh sensor / film. Apabila kurang sinarnya maka foto akan terlihat cendrung gelap / under, sedangkan apa bila kelebihan maka foto akan terlihat cendrung keterangan / over...
Pencahayaan sendiri merupakan kombinasi antara AV / aperture value yaitu besar kecilnya diafragma, TV / time value / shutter speed yaitu lamanya bukaan rana, dan terakhir ISO / iternasional standard organization yang dalam hal ini merupakan standard internasional untuk tingkat kepekaan sensor / film...
Eksposure ini sendiri sering dianalogi kan seperti kita hendak mengisi gelas dengan air dari keran... Dimana putaran keran tersebut diibaratkan dengan aperture, lama keran dibuka diibaratkan dengan shutter speed, gelasnya diibaratkan dengan ISO, tekanan air diibaratkan dengan intensitas penerangan (terang atau low light), dan terakhir airnya diibaratkan dengan sinar... Maka jika keran kita buka lebar maka gelas akan cepat penuhnya... Sedangkan kalo keran kita kecilin maka gelas akan lebih lama penuhnya... Dan ketika kita pake gelas besar (iso rendah) maka kita juga akan semakin lama mengisi gelas tersebut, beda dengan jika gelasnya kita kecilin (iso tinggi) maka gelas tersebut akan lebih cepat penuhnya... Tapi tetap air yang digelas besar lebih banyak dari yang di gelas kecil... Begitu pula tekanan air, semakin tinggi tekanan air (kondisi penerangan terang), atau semakin kecil tekanan air (low light) akan berpengaruh kepada waktu pengisian... Namun terkadang sebelum gelas penuh kita sudah menyetop keran maka terjadilah keadaan under... Atau malah sebaliknya walau gelas sudah penuh tapi keran belom kita tutup maka terjadilah keadaan over...
Enaknya pada zaman sekarang eksposure ini sudah dihitung otomatis oleh camera dengan system yang namanya metering. Matering ini bekerja seperti light/flash meter. Bedanya system ini hanya mampu mengukur continous light saja... Dan keuntungan tekhnologi sekarang lainnya adalah foto kita bisa dianalisa dari histogram pada camera... Sedangkan kalo zaman dulu seorang fotografer harus membawa segepok catatan yang berisikan hal-hal seperti kalo foto siang hari bolong av, tv, nya berapa pada iso sekian, terus kalo ada awannya jadi sekian, kalo sore sekian, dst...
Nah prinsip kerja dari metering ini sendiri yaitu menentukan eksposure warna abu-abu 18% (sesuai gray card) pada suatu kondisi penerangan... Makanya apabila kita memotret benda atau keadaan dominan putih / terang / hi key akan terlihat abu-abu/gelap pada foto kita, dan apabila kita memotret benda dominan hitam / gelap / low key juga akan terlihat abu-abu / pada foto kita lebih terang dari keadaan sebenarnya... Dan makanya di camera kita ada exposure compensation (pada kelas dua digit angkanya -2 s.d. 2).
Dan kesimpulan juga kalo mau memotret dengan exposure yang pas (corect exposure) ya ukur / metering lah pada gray card yang diletakkan pada tempat penerangan yang mau kita ukur exposurenya...
Dan satu lagi jika contras antara tempat yang paling gelap atau terang menyebabkan sudah tidak tertangkap lagi ditail pada tempat gelap atau terang tersebut, berarti anda harus memilih antara tetap pada exposure itu atau mengorbankan salah satunya (mempertahankan ditail di tempat gelap atau di tempat terang)... Sukur-sukur kalo tempat gelapnya tidak luas dan bisa kita angkat (fill in) dengan penerangan buatan seperti flash...
Pada saat kontras tinggi inilah dibutuhkannya camera dengan cakupan dynamic range yang luas atau menggunakan tekhnik edit yang biasa kita sebut HDR...
Kembali ke komponen dari exposure:

a. Aperture
Aperture memiliki angka sebagai berikut (untuk pergeseran 1 stop): ...1; 1,4; 2; 2,8; 4; 5,6; 8; 11; 16; 22; 32;...
Maksud angka diatas sendiri adalah lubang yang terbuka pada lensa kita seper (angka diatas) dari luas lensa kita... Yang perlu dicermati bagaimana aperture mempengaruhi foto kita yaitu semakin lebar aperture dibuka (angka kecil) maka akan semakin sempit/pendek DOF/ruang tajam yang kita dapatkan... Dan semakin sempit lubangnya (angka besar) maka akan semakin panjang DOF/ruang tajam yang kita dapatkan...
Menyangkut masukan dari oom Lay Kana ada semacam teori bahwa suatu lensa itu akan maksimal lensanya dalam merekam subject apabila aperturnya diset sekitar 3 stop lebih sempit dari apertur terluasnya... Contoh: jika lensa dengan bukaan terlebar 2,8; maka foto terbeningnya akan kita temukan pada bukaan 8...

b. Shutter Speed
Ada pun angka pada shutter speed adalah sebagai berikut (untuk pergeseran satu stop): ...8000, 4000, 2000, 1000, 500, 250, 125, 60, 30, 15, 8, 4, 0'5, 1', 2', 4', 8', 15', 30', bulb (selama shutter ditekan camera akan terus merekam)... Maksud angka diatas sendiri adalah seper (angka diatas)detik dan detik untuk tanda '. Yang perlu dicermati bagaimana speed mempengaruhi foto kita yaitu: dengan speed tinggi subject bergerak (apalagi diam) akan terlihat beku sehingga terlihat tajam... Sedangkan pada speed rendah motion (gerakan) dari subject bergerak juga akan terekam oleh camera... Dan kalau dilamakan lagi pada saat tertentu benda bergerak tidak akan terekam sama sekali oleh camera (tidak ada pada foto)...
Nah untuk menentukan speed sendiri agar foto kita freze (beku) dan tajam ada dua hal yang harus diperhatikan:

b1. Speed minimal untuk membekukan gerak subject (subject motion)
Pada dasarnya macam-macam tingkat shutter speed untuk membekukan subject... Hal ini sangat dipengaruhi oleh kecepatan dari si subject sendiri... Seperti kalo motret orang yang sedang pause (pose) mungkin dengan 0,5 detik tetap beku... Tapi speed segitu belom tentu beku kalo orangnya jalan... Antara jalan dan lari juga beda speed untuk membekukannya... Gerakan di atas panggung mungkin beku pada speed 1/125dtk... Tapi mungkin belom bisa membekukan motor dijalanan... Begitu pula dengan orang yang sedang balapan tentu harus lebih cepat lagi speed untuk membekukannya... Namun selain dari kecepatan subject sendiri, ada hal lain yang juga ikut mempengaruhi yaitu jarak subject kita dan arah gerakannya... Semakin dekat subject semakin cepat gerakannya... Ini alasan kenapa pesawat terbang yang begitu kencang tetapi terlihat pelan ketika di langit... Karena jaraknya emang jauh... Kalo arah gerakan sabject mendekati atau menjauhi kita akan beda kecepatannya ketika sisubject bergerak sejajar dengan pandangan kita...

b2. Speed minimal untuk melakukan pemotretan dengan cara hands held (dengan cara memegang kamera tanpa tumpuan atau tripot)
Pada prinsipnya makin panjang focal length yang kita gunakan maka akan makin gampang gerakan pada camera kita, yang akan ikut terekam pada foto... Makannya rumus hands held ini dikaitkan dengan panjang focal length yaitu speed = 1/(panjang focal length)
Nah disinilah IS (image stabilizer) itu sangat berperan... IS sendiri menurut analogi saya prisipnya sama dengan shockbreaker pada mobil... Tekhnologi berperan untuk meredam getaran yang terjadi... Mungkin yang sering jadi pertanyaan bagusan mana sih IS pada lensa apa pada body... Kalo menurut pendapat pribadi saya analoginya sama ketika shock pada motor berpindah dari per dibawah kursi menjadi dekat roda... Makin dekat peredamnya ditaruh ke sumber makin efisien kerjanya... Ya tentu IS pada lensa lebih bagus karena gerakan sinar lebih duluan masuk di lensa baru diteruskan ke sensor... Namun IS juga memiliki keterbatasan dalam meredam getaran...
Nah disaat speed sudah terlalu lambat inilah kita harus menggunakan tripot... Sebenarnya fungsi tripot ada dua, yang satunya akan saya jelaskan pada bagian focusing... Satuhal yang perlu di ingat, matikan IS jika anda memotret menggunakan tripot

Yang perlu ditekankan di sini:
- IS dan Tripot hanya untuk meredam getaran pada camera... Tapi tidak untuk membekukan subject...
- Tidak semua foto itu harus freeze, karena ada beberapa foto yang memang indah jika kita menggunakan speed rendah seperti memotret aliran sungai agar terlihat seperti kapas, memotret lampu mobil yang sedang ada di jalan, dan bahkan dalam aksi panggung akan lebih indah juga jika motionnya sedikit tertangkap.
- Bahkan ada tekhnik motret dimana kamera sengaja digoyang pada saat speed rendah...

c. ISO
Angka dari ISO sendiri yaitu (untuk perubahan 1 stop): ...50, 100, 200, 400, 800, 1600, 3200, 6400,... Semakin tinggi angka ISO maka akan semakin sensitif sensor/film apabila terkena sinar... Yang perlu diketahui bagaimana ISO mempengaruhi foto kita yaitu: iso lebih tinggi akan cenderung menyebabkan foto lebih noise, kurang kontras, kurang resolusi...

Sedikit tambahan untuk angka-angka di atas yang berhubungan dengan stop adalah sebagai berikut: ketika anda memotret dengan exposure speed 60, diafragma 8, dan ISO 100... Ternyata anda beranggapan subject anda kurang beku dan memutuskan untuk menaikkan speed menjadi 125 (1 stop)... Untuk mendapat nilai eksposure (gelap terang yang sama pada foto) berarti anda harus melebarkan bukaan diafragma anda menjadi 5,6 (dari 8 menjadi 5,6 = 1 stop) atau anda harus menaikkan iso anda menjadi 200 (naik 1 stop)... Nah inilah factor tekhnis yang membuat foto tiap fotografer itu berbeda-beda... Dalam kondisi tertentu ada fotografer yang lebih suka mengorbankan speed, ada yang mengorbankan ruangtajam, dan ada yang lebih toleransi terhadap noise yang ada pada foto mereka...
Nah disinilah anda memberikan keputusan ingin menggunakan mode yang mana pada kreatif zone... Kalo prioritas anda pada diafragma misalnya karena anda ingin mendapat dof yang stabil gunakan mode AV karena aperture anda akan selalu tetap dan speed anda secara otomatis akan dicarikan camera... Tapi kalo prioritas anda pada speed misalnya karena ingin selalu subjectnya beku, gunakan mode tv karena speed anda akan selalu tetap sedangkan apertur akan ditentukan secara otomatis oleh camera... Kalo terjadi mentok dimana contohnya pada stelan tv, anda tetapkan anda ingin memotret pada speed 125... angka exposure anda pada metering camera menunjukkan angka 2,8 dan anda sedang menggunakan lensa dengan f terlebarnya maximal 2,8. Lalu angka tersebut berkedip-kedip, ini menandakan pada tingkat iso yang sedang anda gunakan keadaannya masih under walaupun settingan otomatis yang dicarikan oleh kamera (dalam hal ini aperture) sudah maksimal... Berarti anda harus menaikkan ISO sampai aperturnya tidak berkedip lagi agar exposure yang anda dapatkan pas... Biasanya ketika berkedip kalo anda paksa untuk memotret tanpa merubah ISO, maka speednya akan menyesuaikan sendiri yang pada kasus ini ke speed yang lebih rendah walaupun anda sedang menggunakan mode tv...
O ia, apabila anda ragu terhadapa nilai exposure yang anda ingin kan, ada baiknya anda melakukan braketing (AEB = auto exposure baketing)... Yaitu sebuah fasilitas dari camera dimana pada tiga frame yang kita foto akan terdapat ukuran under, ukuran yang pas menurut camera, dan ukuran over... Berapa stop under dan overnya pun dapat kita stel... Jadi setiap subject foto harus kita potret tiga kali, dan kita akan memperoleh tiga foto dengan exposure berbeda... Cara settingnya: menu --> AEB --> Set --> quick control dial (untuk menentukan berapa stopnya) --> set.

AMADEUS AUTOPHOTOGRAPHY CONTEST 2012

AMADEUS AUTOPHOTOGRAPHY CONTEST 2012
Peraturan dan tata Tertib lomba


1.    Jenis Kamera Digital Umum (Merk dan tipe Kamera Bebas)

2.    Prosedur Pendaftaran

       a.    Pendaftaran GRATIS!
       b.    Pendaftaran ditutup di hari pertama event
       c.    Untuk mendaftar, kirim sms dengan format : Amadeus_Nama_Kota yg diikuti 
       d.    Peserta yang sudah mengirimkan sms konfirmasi akan memperoleh nomer peserta
       e.    Peserta wajib daftar ulang di lokasi pameran 1 JAM SEBELUM JADWAL HUNTING

3.    Kategori Lomba: Model dan Produk AMADEUS
       a.    Teknis yang harus diperhatikan
              •    Foto harus menunjukkan produk Amadeus secara utu (tidak terpotong) dan modelnya
              •    Adanya Interaksi model dan produk yang dibawa/disajikan.

4.    Hadiah & jadwal hunting sesuai dengan jadwal event di hari Pertama, Pkl 19.00 wib – 20.30 wib

5.    Hadiah Lomba
       Juara 1 : Rp. 1.000.000,-
       Juara 2 : Rp. 750.000,-
       Juara 3 : Rp. 500.000,-

6.    Peserta diwajibkan menyertakan JUDUL foto saat mengumpulkan.

7.    Peserta diwajibkan mengisi data lengkap. Peserta yang tidak lengkap datanya tidak akan diproses.

8.    Peserta boleh menggunakan Flash tapi tidak diperkenankan menggunakan mobile light/standing flash atau     Reflektor karena dapat mengganggu peserta lainnya

9.    Peserta diperbolehkan melakukan pengaturan brightness & contrast, tetapi tidak diperkenankan melakukan perubahan warna dan perubahan background

10.    Peserta tidak diperkenankan mempergunakan foto yang dihasilkan selama acara ini untuk kepentingan komersil kecuali untuk porto folio si fotografer tersebut. Untuk keperluan komersial lainnya peserta diharapkan atas usahanya sendiri untuk mendapatkan property dan model release yang diperlukan.

11.    Semua copyright foto yang dihasilkan selama lomba adalah milik fotografer.

12.    Semua hasil foto yang masuk menjadi milik panitia / penyelenggara dan dapat dipergunakan untuk keperluan promosi baik dari penyelenggara ataupun sponsor pendukungnya.

13.    Peserta dapat menyerahkan maksimal file 2 foto untuk kategori umum file asli di lokasi event paling lambat di lokasi event pada hari pertama pk 21.00 WIB

14.    Pengumuman dilaksanakan hari terakhir dlm pameran

15.    Foto Pemenang akan dipublikasikan/dimuat di Codymaxx, di Facebook Codymaxx, Facebook dan Twitter Wellcommshop, dan akan / dapat digunakan untuk keperluan publikasi media atau event sejenis lainnya.

16.    Team Juri: Team AMADEUS

Informasi     : Max 085731060069
                   : admin@codyenterprises.com | max.utoyo@yahoo.com


http://www.auto-contest.com/article/amadeus-autophotography-contest-2012